Jumat, 31 Oktober 2014

CERITA WARTAWAN JEPANG BERTEMU PSK INDONESIA DI TOKYO

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Seorang wartawan Jepang menuliskan pengalamannya bertemu berbagai PSK di Tokyo terutama di kawasan Shin Okubo Tokyo yang memang banyak sekali orang Asia di sana termasuk orang Indonesia. Paling banyak adalah orang Korea sehingga daerah itu sering dijuluki Korean Town-nya Tokyo.

"Tengah malam saat kereta api hampir habis saya jalan-jalan sekitar Okubo dan Shin Okubo, yang terkenal sebagai “Ginza of prostitution” karena banyak orang asing sebagai PSK berjalan-jalan malam hari di sana," tulis wartawan Jepang yang dimuat majalah Spa edisi 14-21 Oktober 2014.

Daerah tersebut mulai penuh dengan aktivitas malam sejak 10 tahun terakhir ini. Sekitar 100 orang bekerja di tepian jalan kalau sudah tengah malam.

"Belum lama ini tengah malam saat saya berjalan di sana ada sekitar 30 PSK berdiri di pinggir jalan dan banyak di antaranya memanggil saya dengan suara halus," tambahnya.

Setelah menyapanya, diketahui mereka dari berbagai bangsa antara lain dari Indonesia, China, Amerika Selatan dan sebagainya ada di pinggir jalan.

"Tetapi cukup mengagetkan tak menemui orang Korea," tulisnya lagi.

Alasannya menurutnya, karena sama-sama orang asing, tak mau tumpang tindih dan lagi pula di kota Korea banyak sekali orang Korea sehingga PSK Korea kebanyakan ada di dalam klub malam, tidak muncul di pinggir jalan.

Kebanyakan PSK usia 40 tahunan dan paling banyak dari China. Tetapi belum lama ini ada penggerebekan di Roppongi membuat jumlah mereka agak berkurang saat ini.

Apabila ada yang memakainya, pembayaran 10.000 yen untuk PSK di pinggir jalan, lalu bermain di hotel dan uang hotel tentu lelaki yang membayarnya.

Komunikasi dengan PSK umumnya kini dengan ponsel masing-masing, janjian bertemu di suatu tempat. Atau mendapatkan PSK dari ponsel, media sosial Jepang tempat chatting.

Kebanyakan PSK ini bertaburan ke luar saat liburan musim panas karena banyak yang jalan-jalan di sekitar sana.

DIKIRA KELOMPOK OPK, TUJUH MAHASISWA YOGYA HAMPIR DIRAJAM MASSA

TRIBUNNEWS.COM, OELAMASI - Tujuh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dikejar massa dari Baun, ibukota Kecamatan Amarasi Timur hingga perbatasan Kota Kupang, sejauh 25 kilometer.

Mereka nyaris dirajam massa yang mengejar pakai sepeda motor. Para mahasiswa ini tertolong setelah dijemput puluhan anggota Polres Kupang menggunakan mobil Dalmas Polres Kupang.

"Para mahasiswa ini diamankan di Polres Kupang sementara. Diambil keterangan, lalu dilepas. Karena memang mereka bukan OPK (Orang Potong Kepala). Mereka sudah tunjukkan bukti kartu mahasiswa," jelas Kapolres Kupang, AKBP Michael Lingga Ken, didampingi Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Raden Dwi Ramandhantio, S.H, di Mapolres Kupang, Kamis (30/10/2014) petang.

Tujuh mahasiswa yang nyaris menjadi korban rajam massa adalah Georgie Chrysandi Bangapadang, Kristo Mulyagan Robot, Hendri Pramono, M Banyu Bening, Martina Ari Saraswati, M David Yunan, dan Wachid Adnan.

Salah satu mahasiswa ISI Jogjakarta, Georgie Chrysandi Bangapadang, usai diperiksa penyidik, menuturkan kronologi peristiwa.

Awalnya mereka berangkat ke Pantai Tablolong untuk piknik, setelah kegiatan pentas seni di Kampus FKIP, Undana Kupang. Mereka menggunakan mobil Kijang Krista LGX DH 1463 AB. Namun karena jalan menuju Tablolong ditutup sementara, mereka berbalik arah dan menuju Baun, ibukota Amarasi.

"Saat tiba di Baun, pas jam anak sekolah pulang. Karena bertemu rombongan anak sekolah, kami berhenti membagi permen. Tapi anak-anak itu menghindar dan menyebut kami orang jahat," jelas Chrisandy.

Mereka melanjutkan perjalanan dan bertemu salah satu guru. Mereka bertanya di mana pantai. Lalu dijelaskan jalur jalan yang harus dilalui.

"Saat kami jalan lagi, kami bertemu dua ibu guru. Kami sempat berdialog dan bertanya, kenapa anak-anak takut kepada mereka? Lalu dua ibu guru itu jelaskan ada isu OPK (orang potong kepala). Jadi situasi genting dan orang asing selalu dicurigai," tutur Chrisandy menirukan penjelasan dua ibu guru itu.

Namun karena niat rombongan mahasiswa itu adalah piknik ke pantai, cerita dua ibu guru itu dilupakan. Mereka terus melanjutkan perjalanan ke pantai.

"Namun kami lihat pantainya masih jauh sekali. Karena ada bukit-bukit yang menghalangi. Kami balik lagi dengan mobil. Tapi saat tiba di pintu gerbang desa yang bertulis Jasa Raharja, kami diadang salah satu bapak menggunakan sepeda motor," cerita Chrisandy.

Setelah menjelaskan duduk persoalan, para mahasiswa dibawa ke rumah salah satu tokoh masyarakat. Mereka berlindung di situ, menunggu dijemput polisi.

"Datanglah dua anggota Polsek Baun. Tapi massa yang datang sudah semakin banyak. Bahkan ada yang sudah melempari mobil kami. Karena takut dirajam dan dibunuh massa, dua anggota Polsek berinisiatif mengawal kami pulang ke Kupang," jelas Chrisandy.

Salah satu anggota polsek mengambil alih kemudi mobil. Namun, lanjut Chrisandy, mereka dikejar massa menggunakan sepeda motor.

"Massa terus kejar mobil kami sambil berteriak OPK...OPK..! Mereka membawa golok, kayu dan batu. Di setiap persimpangan jalan, massa mengadang tapi mobil terus dipacu. Terjadi kejar-kejaran yang sangat seru dan sengit. Sangat menakutkan!" kisah Chrisandy.

Tiba di persimpangan di Rumah Sakit Santu Boromeus, Sikumana, mobil Dalmas Polres Kupang tiba lalu mengadang massa. Sedangkan mobil yang ditumpangi mahasiswa terus lari menyelamatkan diri ke Mapolres Kupang di Babau.

Pantauan Pos Kupang (Tribunnews.com Network), para mahasiswa diambil keterangan di Mapolres Kupang, Kamis malam, dipantau langsung Kapolres Kupang, AKBP Michael Lingga Ken dan Kasatreskrim Iptu Raden Dwi R.

Para mahasiswa sempat diberi makan dan minum lalu dilanjutkan pemeriksaan. Para mahasiswa menolak diambil gambarnya. Bahkan ada oknum penyidik Satreskrim bernama Rio Siahaan melarang wartawan meliput kasus tersebut.

Pukul 19.00 Wita, Dekan FKIP Undana, Dr. Marsel Robot didampingi Pembantu dekan I Dr. Paul Taek, Pembantu Dekan 2 Markus Hewar, Pembantu Dekan 3 Melkianus Taneo, dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra, Christ Labuludji, tiba di Mapolres Kupang untuk berkoordinasi dengan penyidik.

Kamis, 30 Oktober 2014

CARI PELANGGAN, AYAM KAMPUS RUTIN GELAR EKSPO

TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA - Pasca penutupan lokalisasi Dolly Surabaya, kini para PS gencar promosi melalui media sosial.

Tidka sedikit yang melayani pria hidung belang melalui jasa makelar.

Penyedia layanan cinta melalui online atau yang lebih dikenal dengan E-Prostitusi, ternyata juga rajin menggelar ekspo.

Sama dengan pameran bisnis umumnya, ekspo ini menjadi panggung memamerkan dagangan unggulan.

Nah, dagangan unggulan E-Prostitusi itu bernama ayam kampus, sebutan untuk pelayan cinta berstatus mahasiswi.

Usia belia dan model layanan berkelas menjadi item kuat dalam promo mereka.
Istilah ekspo ini sudah dikenal luas di dunia E-Prostitusi.

“Awalnya yang menggelar begitu para makelar. Tapi, sekarang banyak yang jalan sendiri-sendiri,” ungkap Angel, Rabu (29/10/2014).

Angel yang tercatat sebagai mahasiswi perguruan tinggi ternama di Surabaya ini sudah hampir dua tahun rutin menggelar ekspo.

Lewat ekspo ini, Angel biasanya membuka layanan sepanjang hari. Ini beda dengan layanan hari biasa, yang umumnya hanya short time dan melayani satu pelanggan.

Saat ekspo, para penjaja cinta membooking kamar hotel untuk waktu tertentu. Rata-rata paling panjang dua hari.

Selama kurun waktu itu, mereka membuka slot atau paket jam layanan. Tamu bisa bergantian mendapatkan layanan.

Layanan khusus diberikan selama ekspo berlangsung. Misalnya, pelanggan dibebaskan dari biaya sewa kamar hotel, saat ekspo berlangsung.

“Jadi, sama-sama untung. Kami yang melayani untung karena bisa menerima beberapa pelanggan sekaligus. Pelanggan juga untung karena tidak harus menyewa hotel,” tutur Angel.

Bukan hanya itu, para ayam memberikan bonus tambahan. Pelanggan bisa mendapatkan service tambahan.

Kongkretnya, hanya dengan membayar sekali bisa, mendapatkan layanan dua kali.

“Tarifnya rata-rata sekitar Rp 800.000. Tapi, pada hari biasa kan cuma untuk sekali service. Kalau sedang ekspo bisa dua kali service,” terangnya sembari tersenyum. (idl/ben/day)